Selamat Jalan Dosenku..

Ir. H. Yerdi Yanuar, MSc. ( Ayah ) By : Febi Yanto, M.Kom

6000_1075733899019_1396374758_30178472_4038219_n
Pagi itu setelah melepas salah seorang karyawan yang mengajukan pengunduran diri dari kampus UPI-YPTK dikarenakan ingin konsentrasi dalam menjaga anaknya. Bapak Herman Nawas pun berangkat ke Hotel bumi minang untuk membuka Training ESQ.

Sama seperti Jum’at biasanya, suasana pagi itu hening sejuk…, dengan desingan angin pagi yang mengitari Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Tiada perasaan yang aneh dengan pagi itu…, tak tergambar sedikitpun suasana mencekam yang bakalan terjadi 1/2 jam kemudian…

Sambil melirik ke kanan belakang Rektor UPI-YPTK mencari sosok yang telah terjadwalkan sebagai petugas yang akan memberikan KULTUM pagi itu, seraya berkata “Ayah yang jadi Ustadz kini !”.

“Waaaaah Ayah ruponyo yang jadi Ustadz kini yo ?” riuh suasana setelah dosen dan karyawan tau ternyata baAyah Yanuar lah yang akan memberikan Tausiyah pagi itu…..

“Lai yang ka subananyo ko Yah !” gurauan pak Syahril mengundang senyum tipis di wajah tenang Ayah.

Dengan tenang Ayah duduk di tengah-tengah kami semua (dosen dan karyawan UPI-YPTK).

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh !” dengan senyum khasnya Ayah mengucapkan salam.

Spontan seisi Masjid menjawab dengan antusias “Wa’alaikum salam Warahmatullahi wabarakatuh !”.

“Yang saya hormati bapak Rektor,………..bapak…….(seraya melirik lama kepada pak Firlan)…… PR1, bapak wakil rektor, bapak direktur pasca, bapak direktur UPI-CENTER, dan bapak-ibuk dosen dan karyawan UPI-YPTK Padang….”, suasana masih hening menunggu kata-kata berikut yang akan keluar dari mulut sang Ustadz.

“Saya bukan ustadz…..”, sambil mengawali. “Bukan ulama….” Timpal pak Julius dan beberapa dosen lain yang merasa pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya.

Suasana sebentar menjadi riuh dengan tawa dari audience yang mendengar.

Namun Ayah berusaha tidak terlalu hanyut dengan riuh suara audience yang hampir memenuhi ruang Masjid. Dengan tenang Ayah melanjutkan perkataannya “Saya bukan ustadz, namun hanya dosen biasa !”, “Saya tidak akan memberikan ceramah.., namun ada sebuah kisah….” (diiringi dengan ayunan tangan khas Ayah..)

“Mungkin ibu-ibu dan bapak-bapak sudah pernah mendengar kisah ini sebelumnya” tambah Ayah memperkirakan kisah nya ini mungkin sudah sering di dengan oleh segenap dosen dan karyawan.

“Namun saya akan mencoba mengulang hikmah yang terkandung di dalamnya…”, dengan menyandarkan ceritanya pada hikmah yang akan ditarik nantinya.

“Kisahnya begini…….”, sambil memperhatikan sekaliling untuk memastikan perhatian audience tidak bercabang. “Ada seorang anak dengan bapaknya….. membeli seekor keledai”. Rasa penasaran audience semakin meningkat dengan awal yang agak sedikit menarik.

“Dalam perjalanan pulang keledai tersebut di tarik oleh Ayah dan anak tersebut, setibanya di sebuah kampung orang dikampung tersebut mengatakan ‘Bapak dan anak nya sama-sama bodoh, keledai sudah dibeli tapi tidak di tunggangi.”, hening sesaat untuk membiarkan audience mencerna perkataan Ayah, seraya berkata “mereka tidak RIDHO….!”

Sambil mengangkat jari telunjuknya untuk memastikan audience benar-benar menggaris bawahi kalimat terakhir itu.

“kemudian sang ayah menyuruh anak nya menaiki keledai tadi” Ayah melanjutkan. “dan setibanya disebuah kampung, orang di kampung tersebut menanggapi, ‘memang anak yang tidak tau diuntung, bapaknya capek-capek berjalan, eh malah dia enak-enakan duduk di atas keledai…’, mereka tidak RIDHO !” dengan ekspresi yang sama mengangkat jari telunjukknya, suara riuh kecil mulai berbunyi setelah kalimat terakhir selesai.

Ayah terus melanjutkan “Akhirnya sang bapak menyuruh anaknya turun, dan digantikan oleh bapaknya, dan sesampainya di kampung berikutnya orang disanapun juga mengomentari ‘bapak yang kejam, anak sekecil itu disuruh berjalan kaki sementara dianya enak-enakan duduk di atas keledai’, mereka juga tidak RIDHO !”, suara riuh semakin keras berbunyi, pertanda audience sudah mulai paham apa yang dimaksudkan oleh Ayah.

Ayah melanjutkan tanpa menghiraukan riuh suara audience yang mulai ramai. “kemudian sang bapak menyuruh anaknya menaiki keledai tersebut dengannya, sesampainya di kampung berikutnya, masyarakat disana kembali tidak RIDHO dengan hal tersebut sambil berkata, anak dan bapak yang aneh, keledai sekecil itu di tunggangi bersama !”

Suarah riuh audience sudah berobah menjadi lebih keras dengan sesekali diiringi tawa keras beberapa orang dosen dan karyawan. sebagian audience sudah mengetahui cerita khas yang di kisahkan oleh Ayah tersebut, dan sebagian lagi meriuhkan suasana karena mungkin kesannya cerita ini lucu.

Tangan Ayah terangkat dengan tujuan menenangkan audience karna kisahnya belum selesai. Dengan tenang Ayah melanjutkan sisa kisahnya “Akhirnya sang bapak dengan anaknya menyandang keledai tersebut berdua, dan tiba di sebuah desa yang lain, spontan orang desa tersebut mengatakan ‘ayah dan anak sama gilanya……, masa keledai digendong !, dasar gila….!'”, spontan sorak tawa audience memenuhi ruang Masjid, di sela riuh sorak audience Ayah masih sempat menambahkan “Mereka juga tidak Ridho !”,

dan kesegaran suasana menyelimuti kami karena mendapati akhir kisah Ayah yang sangat mengundang tawa itu. Celetuk keras terucap dari Rika (salah seorang dosen SI) “Intinyo apo Yah !”, dengan penasaran ia menanyakan….,

“Saba….r !” jawab Tiwi di depan deretan ibu-ibu pada sisi kiri Masjid.

Kembali suasana menjadi hening karna dosen dan karyawan lain juga penasaran menantikan hikmah dibalik kisah yang diceritakan Ayah tersebut.

Dengan sedikit menarik nafas Ayah memelanjutkan…. “Intinya apa !,

JANGAN PERNAH MENGHARAP RIDHO MANUSIA, KARNA DIMATA MANUSIA APAPUN YANG KITA LAKUKAN TIDAK AKAN DIRIDHOINYA”

dengan sedikit badan dicondongkan khas Ayah seperti biasanya mengajar di lokal, dan sambil mengangkat telunjuk kanan Ayah melajutkan,

“HARAPLAH HANYA RIDHO DARI ALLAH………. !”, “SEKIAN DARI SAYA, ASSALAAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH !”,

dengan tanpa tertahankan lagi semua audience bersorak kagum dengan finishing kisah yang begitu dalam dari Ayah……, dan sebagian ada yang tanpa sadar bertepuk keras, karna memang hikmah tersebut pantas untuk diacungkan penghargaan yang tinggi…….

Dengan kekuatan yang pasti, Ayah berdiri diiringi riuh sorak audience yang masih terkagum dan bangga dengan hikmah yang sudah lama tidak terucap dari sosok sang GURU BESAR, GURU SENIOR, DOSEN PARA DOSEN, tesebut.

Langkah pasti Ayah mengantarkannya ke sisi kanan Masjid di sebelah tiang Masjid.

Disebelah pak Wandi (salah seorang karyawan senior UPI-YPTK), Ayah mulai mendudukkan dirinya, sambil berucap lambat dan nyaris tak terdengar di telinga pak Wandi, beliau berkata “Sakik dado ambo Wandi ha……!”,

Antara percaya dengan tidak pak Wandi memperhatikan Ayah dengan seksama.

dari sisi kanan nya PENULIS masih sempat memperhatikan wajah Ayah dikala duduk, namun hanya dalam hitungan detik sesudah itu.

Disaat PENULIS melihat kembali kearah Ayah, sesosok yang di cari itu tidak ada lagi di sejajar badan dosen dan karyawan yang lain, penasaran merasuki PENULIS akan sosok sang USTADZ tadi yang telah memberikan hikmah yang sangat berharga…….

sejenak suasana mulai berubah menjadi riuh suara pekikan, dan teriakan “Ayah……!”,

“Ayah……ayah………ayah dek a ayah ?………”

“Ayah………….!, eh Ayah dek a tuha !, Ayah………!”, suasana tak tertahankan lagi menjadi gaduh dan riuh penuh dengan panggilan-panggilan akan nama sang GURU, secara spontanpun diiringi tangis yang keluar dari ibu-ibu di sisi lain Masjid.

Sekejap konsentrasi penghuni Masjid sudah mulai memadati sisi kanan Masjid, dan dengan penasaran mencari tahu apa gerangan yang terjadi pada Ayah.

“Laaa ilaaaha illallaaaaah……..!, Laaa ilaaaha illallaaaaah……..!”, bunyinya sedikit kabur namun ada yang mencoba untuk membantu Ayah dalam menempuh kesusahannya…..,

“Baok capek ka rumah sakik, PENULIS mencoba memberikan saran atas situasi yang mulai tak terkendalikan tersebut.

Badan Ayah mulai bergoncang hebat, mencengkram tangan pak Wandi dan Iil Safari (Dosen Teknik), dengan kaki terjulur Ayah terlihat sangat payah…….

“Ayaaaaahhhh………..!, Istighfar yah, istighfar, Laa ilaaha illallaah…… !” di sela riuh tangis dan kepanikan terdengar juga tuntunan kaliamt di akhir hayat tersebut berusaha membantu di detik-detik terakhirnya.

“Oto sia yang dakek !, ha oto pak Yu selah !, pak Yu pinjam oto pak Yu !” ucap pak Julius mencoba memberikan usaha terakhir sebelum kepergian Ayah.

“Capek….., capek angkek !,” Suara entah siapa yang menyeruak di balik kepanikan suasana pagi itu.
Spontan pak Julius, pak Yuhandri, pak Taslim, serta beberapa dosen dan karyawan lain mulai membopong tubuh kejang Ayah menuju mobil sedan Hyundai pak Yuhandri.

Suasana begitu mencekam, riak tangis ibu-ibu dosen dan karyawan sudah mulai meledak ketika mengetahui tubuh Ayah diangkat beramai-ramai menuju mobil.

Spontan pak Julis digantikan oleh dosen yang lain dalam membopong Ayah, karna akan membuka pintu mobil. Rektor pun langsung membuka pintu karna akan ikut mengantarkan Ayah kerumah sakit, seraya duduk disamping pak Julius yang akan menyetir mobil.

tubuh Ayah dimasukkan kedalam mobil dan dituntun oleh pak Taslim kedalam mobil.

“Sia yang ka mamaciakan Ayah ?” celetuk salah seorang dosen senior bertanya, dan kebetulan di sisi pintu mobil tersebut pak Fitrizal sudah berada. “Haa… pak Pit se lah !”, seraya pak Fitrizal, seorang tokoh dosen senior yang lain, masuk kedalam mobil mengangkat kepala Ayah dan meletakkannya di pangkuannya.

Pintu mobil ditutup, Duk, Suiiiiing…….., dengan pasti dan gesit pak Julius mengendarai mobil tersebut menuju Rumah Sakit.

Beberapa hentakan nafas keluar dari mulut Ayah disaat perjalanan menuju Rumah sakit……..

Suasana hening……… terdiam………antara sadar dan tidak dengan kejadian yang tengah berlalu di wajah-wajah karyawan dan dosen UPI-YPTK. Tiada tergambar sebelumnya tanda-tanda suasana yang begitu mencekam seperti ini.

Mobil pak Yuhandri melesat menjauh……, begitu kencang, namun terkendali dengan baik, mengantarkan sang GURU.

Entah kemana………….. ketempat yang kami semua tidak tau……., ketempat yang kami semua belum pernah kesana.

Hingga kapan….., hingga waktu kapan yang tak pernah dapat terprediksi oleh ilmu apa pun………….

beberapa jam kemudian…… di Sawah Tangah, Batusangkar…….

Jenazah Ayah sudah sedari tadi tiba di rumah duka dan akan di shalatkan…..

Di Masjid * R I D H O *

……………………… Subhanallaah !!! PENULIS : FEBI YANTO,M.KOM

2 thoughts on “Selamat Jalan Dosenku..

  1. sudirman, Ir. MM, M. Kom, Cand. Phd says:

    Ayah adalah guru, sahabat, ……. banyak kenangan yang telah kita lewati bersama….. suka dan duka…

    Selamat jalan ayah Yerdi….

  2. adek sri indah mutia says:

    Selamat jalan om, mudh2an engkau bahagia disurga. Hatimu baik, iklas n tulus pd keluarga, family, siswamu n org2 yg ada disekitarmu. Aku bgg menjadi bagian dr familymu.. Kita semua akan sll mendoakanmu om..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s