Hujan rindu bulan desember

Hujan bulan desember , sepaket dengan merindumu sekali lagi.

Seharusnya Rasa ini sudah tidak Ada lagi , tepat setelah aku memutuskan pergi.
Ah… Bicara tentang rindu , susah untuk dikendalikan , dia datang Dan pergi sesuka hati.

Siapa peduli, nyatanya tetap saja aku merindukan dia yang dulu memberi rasa hangat di hati, dia yang hingga hari ini namanya masih menghadirkan debar namun berujung nyeri. Dia, adalah kamu, yang masih memenangkan rindu ini.

Lalu sekali lagi, rindu ini hanya milikku saja. Waktu jelas menjadi sangat berbeda, dulu aku bisa menyampaikan rasa ingin bertemu dengan mudahnya, atau menumpahkan semua keluh kesah dan keinginan untuk merajuk manja. Tapi kini, jangankan untuk mengungkapkan gemuruh yang menyeruak di dada, sekedar menyapamu pun aku sudah tidak tahu bagaimana caranya.

kuyakinkan diri sendiri bahwa aku sudah baik-baik saja, hidup masih bisa berlanjut meski kini tidak ada lagi kita. Tapi ternyata setelahnya masih ada banyak malam yang kulalui dengan air mata, menahan nyeri di dada, sambil berharap siapa tahu sakit ini akan membaik keesokan harinya. Aahh…rupanya kamu meninggalkan jejak yang terlalu lekat di dalam sana

Entah mengapa kenangan tentangmu masih tersimpan rapi meski berkali-kali kuusir pergi.

Sungguh, aku berharap bisa menyudahi semua ini. Berapa banyak waktu lagi yang harus aku lewati untuk tidak lagi merindukan kamu yang sudah jauh disana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s